←back to Blog

Strategi Penulis Fiksi yang Ingin Jadi Content Writer

strategi penulis fiksi

 

Ketika sedang memandu salah satu penulis fiksi yang ingin jago menjadi penulis konten atau content writer, saya sering ditanya tentang triknya. Sebenarnya, strategi penulis fiksi yang ingin jadi content writer itu tidak ada yang khusus. Kita hanya perlu mengelola pola pikir dan sedikit latihan teknisnya.

Saya menjadi penulis novel terlebih dahulu sebelum menjadi bloger. Job yang memberikan saya uang tambahan ketika masih kuliah memang dari content writing, tetapi ketika saya baca ulang lagi sekarang, wah, butuh banyak perbaikan. 

 

Hal-Hal yang Menyusahkan Penulis Fiksi dalam Content Writing

Setelah menerbitkan novel pertama hingga ketiga, saya mulai menekuni dunia blog dan content writing. Masih banyak hal yang harus saya perbaiki. Apalagi ketika saya harus mengganti mode otak dari fiksi ke artikel. Susah juga di awal-awal. 

Apa saja hal-hal yang membuat susah tersebut? Mungkin kamu juga mengalaminya?

Terbawa Menulis Narasi Panjang

Dalam fiksi, penulis juga terkadang membutuhkan deskripsi lebih detail untuk menyampaikan emosi tokoh. Saat saya menulis novel thriller yang masuk kategori 5 naskah terbaik AT Press Solo pada 2019, saya juga sedang menyelesaikan artikel dari klien.

Saat itu, saya harus menghapus berkali-kali bagian dari artikel karena merasa kering atau kurang pendalaman. Saya terbiasa menyusun plot dengan teka-teki dan narasi yang membangun ketegangan sesuai novel yang sedang saya tulis waktu itu. Makanya, narasi panjang jadi terbawa ketika menulis artikel yang kesannya jadi bertele-tele.

Rasanya Ingin Menulis Semua Hal

Menulis fiksi, terutama novel, memicu rentetan film di kepala. Saya terbiasa menulis dengan gaya pantser. Outline saya buat, tetapi hanya untuk draft awal. Berikutnya, saya suka menulis tanpa outline detail untuk tiap bab. 

Rasanya susah sekali ketika harus berganti mode pikiran ke menulis blog atau artikel. Mau tidak mau, saya harus menyusun outline singkat untuk membatasi keinginan otak yang ingin menuliskan semua hal terkait. Capek banget karena saya ide tersebut berebutan rame di dalam kepala.

Jadi Mudah Kena Writer’s Block

Menulis fiksi juga butuh riset. Malah ketika menulis novel, saya bisa melakukan riset lebih banyak daripada ketika menulis artikel. Karena sudah membaca dan menonton banyak konten demi novel, energi jadi habis ketika ingin menulis artikel.

Efeknya, saya terkena writer’s block. Saya merasa jika sudah terbiasa menulis artikel, gaya fiksi saya malah berubah kaku. Ini juga memicu kebuntuan ide yang bisa membuat saya galau.

 

Agar Bisa Menulis Fiksi dan Content Writing Beriringan

Setelah menerbitkan buku solo sampai 20 judul per tahun 2023 lalu dan masih terus menulis blog hingga copywriting, akhirnya saya menemukan cara untuk mudah mengganti mode menulis. Seperti apa strategi yang saya praktikkan?

Detoksifikasi Konten

Saat sedang menulis novel, saya mengonsumsi banyak konten fiksi mulai dari novel dengan genre sejenis, membawa manhwa di Webtoon, sampai nonton drakor. Maka, ketika ingin menulis artikel, minimal satu hari sebelumnya, saya vakum nonton drakor.

Selanjutnya, saya sengaja membuka medsos dengan kata kunci yang berkaitan dengan artikelyang akan saya kembangkan. Saya nikmati sampai aroma fiksi di dalam kepala bisa terdetoksifikasi. Cara paling cepat tentu membaca artikel lama atau membaca blog orang lain.

Menerapkan Plain Language

Setelah menulis artikel atau konten untuk medsos, saya akan mengecek kembali menggunakan metode Plain Language. Saya cek semua kalimat yang tidak efektif, konteks terlalu melebar, dan kesesuaiani dengan tujuan besar dari satu konten tersebut. Satu konten sebaiknya fokus pada satu solusi atau satu tujuan saja.

Plain Language ini membantu saya untuk berpikir membuat konten yang memudahkan target audiens dalam satu kali baca. Saya pun berpikir apakah lebih baik dibentuk dalam tabel atau infografis, dan lainnya.

Buat Jadwal dan Skala Prioritas

Amati tingkat kesibukan sehari-hari lalu buat skala prioritas. Apakah kamu harus menulis novel untuk mengejar deadline lomba atau kamu ingin menulis blog sebagai kegiatan rutin mingguan? Keduanya sama-sama penting.

Menulis blog untuk diri sendiri bisa dilakukan seminggu dua kali, sedangkan mengejar deadline novel harus dilakukan setiap hari. Ketahui di jam berapa kamu nyaman untuk menulis lalu buat jadwal.

Contohnya, saat sedang mengejar deadline menulis novel dalam sebulan, saya akan fokus menulis bab baru tiap jam 4-5 pagi. Pada jam kantor mulai 7.30 sampai 16.30, saya fokus bekerja, tetapi di sela jam istirahat, saya bisa melakukan riset sumber konten.

Tulisan untuk blog akan saya jadwalkan H-1 sebelum deadline. Jika ada pekerjaan untuk klien, waktu menulis di pagi hari akan saya bagi 30 menit untuk fiksi, 30 menit untuk klien.Tentunya, kesibukan saya dengan IRT akan jauh berbeda. Jadi, ketahui skala prioritas dan tentukan mau fokus pada hal apa dulu.

Apakah kamu ada metode lain? Coba jelaskan di sini strategi penulis fiksi yang sudah kamu jalankan agar bisa menjadi content writer jempolan. (Baca Juga: Tips Menulis Artikel yang Tidak Disukai)

Reffi Dhinar

2 responses to “Strategi Penulis Fiksi yang Ingin Jadi Content Writer”

  1. agha Avatar
    agha

    Point “Buat Jadwal dan Skala Prioritas” sangat menarik untu dibahas. Deadline memang bisa menantang atau justru menjatuhkan. Tergantung bagaimana mental kita.
    Sangat setuju, saat bekerja berfokuslah pada pekerjaan. Saat menulis pun demikian. sebagai pengajar bahasa Indonesia, menumbuhkan motivasi menulis adalah suatu tantangan luar biasa. Berbicara motivasi menulis, juga berbicara motivasi membaca.

    post yang baik… keren kak..

    1. Reffi Dhinar Avatar
      Reffi Dhinar

      Benar, deadline itu seperti pedang bermata dua. Tetap perhatikan kemampuan diri agar nggak sampai menusuk yaa hehe. Terima kasih sudah mampir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *