←back to Blog

Do’s dan Don’ts Seorang Freelance Copywriter

seorarng-freelance-copywriter

Saya menjadi seorang freelance copywriter ketika masih bekerja. Ada banyak hal yang saya tata ketika akhirnya terjun di dalam skill baru. Sebelumnya, saya lebih sering menulis artikel dan juga buku. Sampai akhirnya, saya belajar banyak hal baru ketika menekuni copywriting.

Akhirnya,saya pun belajar banyak hal baru ketika mulai menekuni copywriting. Seperti apa temuan versi saya?

 

Copywriter Sangat Mempedulikan Audiens

Ini adalah salah satu hal yang saya temukan ketika belajar copywriting. Bukannya kalau menulis artikel itu hanya pedul pada diri sendiri, tetapi ketika mendapat job menulis artikel di blog pribadi atau klien, prosesnya lebih sedikit ketimbang job copywriting

Saat menulis artikel, kebiasaan yang saya lakukan adalah target audiensnya siapa sehingga saya bisa mencocokkan gaya bahasa. Selebihnya, saya mulai riset kata kunci dan mencari sumber untuk ide konten.

Berbeda halnya saat mendapat job copywriting. Ada beberapa tahapan yang harus saya lakukan hanya karena ingin menggali target audiens.

  • Wawancara klien untuk mengetahui jiwa brand atau jenamanya.
  • Memeriksa semua fitur dan benefit produk yang sesuai dengan target audiens.
  • Memetakan isi kepala dan perasaan terkait masalah yang dihadapi si target audiens.
  • Mencocokkan apakan benefit produk atau jasa bisa sesuai dengan masalah si target audiens.
  • Mencari tahu di tahap apa target audiens ini berada, apakah benar-beanr pemula, expert, atau di antara keduanya.

Daftar yang saya tulis di atas kebanyakan berkaitan dengan memetakan target audiens saja. Belum lagi langkah-langkah lainnya. Namun, kali ini saya ingin membahas tentang do’s dan don’ts yang perlu diperhatikan freelance copywriter agar klien pun senang dengan pekerjaan kita.

 

Freelance Copywriter Perlu Memperhatikan Hal-Hal Berikut Ini

Saya membagi do’s dan don’ts yang juga bisa menjadi pengingat agar saya tidak melakukan hal yang salah dan melanjutkan sikap yang tepat. 

Do’s untuk Copywriter

Seperti apa, sih, perilaku, sikap, dan juga mindset yang harus dimiliki seorang freelance copywriter? Cek di sini!

Mendalami Jiwa Brand

Kalau kamu ingin membuat konten untuk personal branding, ini lebih mudah karena kamu sudah mengenali diri sendiri lebih baik. Namun, bagaimana kalau untuk orang lain?

Ketika mendapat job copywriting dari klien maka hal yang harus kamu lakukan secara komprehensif adalah mendalami jiwa brand. Lakukan wawancara dan minta semua sumber pendukung untuk memberikanmu gambaran tentang produk dan latar belakang brand.

Saat saya mendapat job menulis press release sebuah brand asuransi yang hanya 600 kata, proses mendalami jiwa brand lewat pertemuan Zoom dan diskusi di WhatsApp grup berlangsung sampai dua minggu. Jadi, proses risetnya membutuhkan waktu lebih lama daripada menulisnya.

 

Mengerti Target Audiens

Kamu harus membedah target audiens tidak hanya dari segi usia, tempat tinggal dan juga minat mereka. Seperti halnya ketika sedang mendalami jiwa brand, kamu harus membedah permasalahan target audiens dan juga bagaimana mereka ingin menyelesaikan masalahnya.

Contoh, ketika kamu mempromosikan produk jerawat, maka kamu perlu tahu apa saja masalah psikologis yang membuat seseorang ingin sekali menghilangkan jerawatnya. Kamu bisa menghubungkan produk dengan peningkatan kepercayaan diri, membuat pembeli tidak diejek, dan keuntungan lainnya. Fokuslah pada benefit produk atau jasa untuk audiensmu.

 

Menulis dengan Jujur

Copywriting itu tidak menipu pembaca. Kamu memang perlu membuat kata yang menarik minat sekaligus menimbulkan konversi, tetapi jangan memanipulasi. Semua klaim harus ada buktinya misalnya data dari BPOM dan kandungannya yang memang bagus.

Kamu juga perlu mengenali klien. Apakah mereka sudah punya izin resmi dan juga label halal? Apakah tidak ada kandungan berbahaya di dalam kandungan barangnya? Risetlah dengan tekun.

 

Dont’s untuk Copywriter

Apa saja yang sebaiknya kita hindari sebagai freelance copywriter?

Menggunakan Bahasa yang Berbelit-belit dan Jargon

Menggunakan bahasa yang terlalu rumit atau penuh dengan jargon  dapat membuat tulisan copy sulit dipahami oleh audiens. Tujuan copywriting adalah untuk berkomunikasi dengan jelas dan langsung, bukan untuk membingungkan pembaca.

Mengapa ini buruk? Pembaca mungkin merasa frustasi dan cepat kehilangan minat jika mereka harus bekerja keras untuk memahami pesan.

Copywriting itu untuk mendekatkan pembaca dengan pesan yang kamu buat sehingga mereka bisa melakukan apa yang kamu tulis di CTA.

 

Terlalu Fokus Pada Fitur, Bukan Manfaat

Fokus terlalu banyak pada fitur produk atau layanan dan mengabaikan manfaat yang sebenarnya didapat oleh pengguna adalah kesalahan umum. Pembaca lebih tertarik pada bagaimana produk atau layanan tersebut akan meningkatkan hidup mereka.

Contoh yang hanya fokus pada fitur:

“Produk kami memiliki kapasitas penyimpanan 500GB dan prosesor 3.2GHz.”

Kalau diubah untuk fokus pada benefit menjadi:

“Produk kami membantu Anda menyimpan lebih banyak foto dan video favorit sehingga Anda bisa menikmati momen-momen berharga tanpa hambatan.”

(Baca Juga: Cara Membuat Headline Copywriting)

Menipu Pembaca

Kamu menulis bahwa promo akan berakhir dalam tujuh hari, ternyata setelah sepuluh hari pun promonya masih berjalan. Hal-hal seperti ini sering saya temui dan memang tidak ada hukum mutlaknya, tetapi alangkah baiknya kalau kamu fokus pada kualitas copywriting, bukannya tipu-tipu demi kredibilitas. (Baca Juga: 7 Strategi Content Marketing)

 

Inilah penjelasan do’s dan don’ts seorang freelance copywriter yang bisa menjadi referensi agar kamu tidak lagi kebingungan dalam membangun karier dan terus bertumbuh menjadi penulis profesional. Ingin memulai karier sebagai freelance writer di tengah waktu kerja yang sibuk? Cek penjelasannya di sini tentang Magic Wordpreneur.

Reffi Dhinar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *