←back to Blog

Menulis untuk Passion Itu Selalu Menyenangkan?

 

Menulis untuk passion kelihatannya memang menyenangkan. Kita jadi punya alasan untuk menuangkan ide dan imajinasi. Tidak jarang pikiran-pikiran liar bisa dijadikan cerita yang menarik dan membungkus keinginan terdalam. Namun, sampai kapan mau bertahan untuk passion?

Sebagai seorang penulis sekaligus pekerja kantoran beberapa tahun ini, saya tahu susahnya bertahan hanya demi passion. Di awal, menulis untuk passion itu terasa romantis. Kini, melihat harga-harga barang dan jasa semakin melambung tinggi, saya pun membedakannya menjadi dua, yaitu untuk kesenangan dan monetisasi.

 

Mengapa Menulis untuk Passion Tidak Selalu Bahagia?

Menulis untuk passion memang sering kali dikaitkan sebagai aktivitas yang memuaskan dan membahagiakan. Namun, kenyataannya, tidak selalu demikian.

Saya menulis sejak masih sekolah dasar. Beberapa kali saya menang lomba karena kemampuan bercerita serta menulis, tetapi belum ada rasa percaya diri dan minat untuk mendapatkan uang dari menulis.

Sampai pada suatu hari ketika saya duduk di bangku kuliah tahun terakhir, saya mulai mengevaluasi passion saya dalam menulis. Menulis itu membutuhkan waktu, apakah saya ingin terus-menerus melakukan ini tanpa ada fee sedikit pun? Inilah beberapa hal yang membuat saya sadar jika passion saja tidak cukup.

(Baca Juga: Kamu Tidak Akan Kenyang dengan Passion)

 

Merasa Tidak Berkembang

Menulis untuk passion berarti menulis sesuka hati tanpa ada tantangan dan aturan. Ini berlaku ketika saya masih sekolah dasar dan menulis di buku jurnal. Setelah memiliki blog yang awalnya saya isi suka-suka, saya mulai berteman dengan sesama bloger.

Wah, ada yang menjadi content writer profesional, menang lomba blog, hingga prestasi menulis lain. Ada jadwal menulis rutin dan ketekunan serta proses belajar. Passion saja tanpa ada evaluasi membuat saya tidak berkembang.

 

Tidak Sepadan dengan Capeknya

Menulis di sela kesibukan itu tidak mudah. Hanya berbekal passion membuat saya sering mengenyampingkan waktu menulis secara sadar. Buat apa capek-capek riset dan mencari ide menulis kalau toh hanya sekadar untuk dibaca sendiri?

Ketika saya sadar jika saya butuh dikritik, maka saya mulai sering membagikan tulisan di medsos. Ada yang suka dan ada yang mengkritik. Itu sudah jadi risiko jika ingin passion berkembang.

 

Sudah Ada Tujuan

Passion itu bisa berganti. Kalau ingin karier menulis berkembang, passion saja sangat tidak cukup. Butuh strategi, konsistensi, dan evaluasi agar bisa maju lebih pesat. Itulah sebabnya passion dalam membaca tidak saya jadikan bisnis berbayar seperti review misalnya. Ini tetap mejadi hobi saat saya sedang capek menulis.

 

Bagaimana Cara Mengubah Passion Menulis Menjadi Menghasilkan?

Ada beberapa cara sederhana agar tulisanmu bisa menghasilkan. Berikut ini beberapa hal yang saya lakukan agar bisa menjadikan tulisan berharga buat dibaca serta dibayar.

 

Ikut Kelas Menulis

Sekarang, banyak sekali komunitas atau kelas menulis gratis dengan syarat peserta mengerjakan tugas. Namun, saya menemukan pengalaman lebih banyak setelah mengikuti kelas berbayar dan dinilai mentor.

Kamu bisa mencari kelas menulis dengan biaya dari 50 ribu sampai ratusan ribu. Cek kemampuan dan pengalaman mentor lalu ikuti kelasnya. Mengikuti program menulis antologi dengan bimbingan mentor juga bermanfaat agar kamu tahu kekuranganmu.

“Bukannya latihan menulis bisa otodidak?”

Memang benar kamu bisa belajar mandiri, tetapi untuk menemukan celah apakah tulisanmu ini sudah bagus atau tidak membutuhkan kemampuan objektif. Akui saja, penulis cenderung merasa terikat dengan karyanya sehingga hanya memperbaiki saltik tanpa tahu apakah ada celah besar di dalam tulisan.

Saya mendapatkan job menulis artikel pertama setelah cukup percaya diri dengan kemampuan menulis zaman SMP. Waktu itu, saya memenangkan kompetisi menulis review film tingkat pelajar dan beberapa tahun berikutnya ketika kuliah, saya coba melamar posisi sebagai freelance content writer

Gaji pertama sebagai content writer masih kecil. Justru setelah saya mengikuti beberapa kelas blog dan artikel, kualitas konten saya meningkat karena dievaluasi mentor. Blog pun mulai dilirik klien. Ingin belajar menjadi freelance writer andal? Coba kelasnya di sini.

(Baca Juga: 5 Tips Menulis Judul Artikel Menarik)

Mengikuti Kompetisi atau Tantangan Menulis

Punya cita-cita ingin menulis buku? Ikutilah tantangan menulis atau sekalian bergabung di sebuah lomba. Novel pertama saya yang berjudul Triangle’s Destiny bisa terbit setelah menjadi finalis di Kompetisi Menulis Nasional di Penerbit AGPressindo pada 2014.

Dalam periode 2014-2020 saya rajin mengikuti lomba, tantangan menulis, hingga mencoba seleksi penerbit indie atau mayor sampai terbit buku solo sebanyak 23 judul per 2024. 

Jika kamu kalah, kamu bisa membaca karya pemenang untuk dipelajari. Saat kamu berkesempatan untuk lolos dan diterbitkan, kamu akan bertemu dengan editor yang siap memoles naskah agar layak terbit.

Jangan putus asa jika mendapat banyak saran dan kritik dari editor hingga kamu merombak naskah. Saya pernah mengalami proses perombakan hingga 80%, menghapus tokoh, sampai merombak beberapa bab. Tidak mudah, tetapi ini kesempatan saya untuk banyak pertanya kepada editor sebagai pembaca ahli.

Bergabung di Website Freelancer

Kamu sudah rajin menulis blog dan punya beberapa portofolio menulis antologi atau buku solo? Cobalah untuk bergabung di website freelancer. Di sana kamu bisa mencari job menulis yang kamu suka.

Ketika kamu punya blog yang isinya artikel berkualitas atau buku, klien pun bisa lebih tertarik untuk menghubungimu. Butuh waktu untuk sampai mendapat job, bersabarlah. Kamu juga bisa mengumumkan jasa menulismu di medsos. Mulailah menyusun rate card dan belajar bernegosiasi dengan calon klien.

Menulis untuk passion itu sah-sah saja asal kamu tahu cara meletakkan batasannya. Jika kamu ingin maju, maka lakukanlah aktivitas untuk meningkatkan kemampuan. Hanya ingin menjadi hobi biasa? Maka, jangan mengeluh kalau kemampuanmu tidak terukut dan begitu-begitu saja. 

 

Reffi Dhinar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *