←back to Blog

Merasa Tidak Pantas Menyebut Diri Penulis Kalau Belum Menerbitkan Buku?

 

 

Menerbitkan buku adalah salah satu pencapaian tertinggi yang ingin dicapai para penulis freelance. Menulis artikel di blog dan copywriting bagi sebagian orang adalah salah satu skill yang keren, tetapi jika belum menerbitkan buku, rasanya ada yang kurang. 

Sampai ketika saya sedang mengisi sesi mentoring untuk storytelling dengan salah satu klien privat yang merasa kurang percaya diri menyebut dirinya sebagai penulis. Alasannya adalah karena ia belum menerbitkan buku solo. 

 

Menulis Seperti Ada Kasta Layaknya Membaca

Saya pernah membahas fenomena book snob yang menyebalkan di podcast Kata Reffi. Dalam podcast tersebut, saya menyatakan ketidaksukaan pada orang-orang yang meremehkan pembaca novel romance, bukannya sastra, sebagai pembaca yang kurang bermutu. Bahkan, dalam aktivitas membaca saja sudah ada kaum sok inteleknya.

Akhirnya, saya sadar jika masih banyak orang yang merasa lebih pintar dan kece ketika membaca buku-buku filsafat dan sastra yang berat lalu mengejek pembaca novel teenlit. Padahal, tujuan tiap orang untuk membaca itu beragam. Ada yang ingin menambah wawasan dan ada pula yang ingin menjadi hiburan.

Begitu pula dengan aktivitas menulis. Saya pernah menemui cuitan seseorang yang merasa sedih karena aktivitas ngeblognya dibilang tidak sama dengan menjadi penulis. Padahal, menulis artikel di blog pun butuh logika dan juga riset.

Apakah menulis cerita pengalaman pribadi seperti ketika sedang travelling atau mereview produk kecantikan itu lantas membuat seorang bloger bukan menjadi seorang penulis? Tentu saja tidak bukan? Bloger juga wajib melihat kerapian tulisan serta runtutan cerita agar enak dibaca. 

Ditambah lagi, jika artikel tersebut ditulis untuk memenuhi job dari klien. Kami, para bloger, perlu melakukan riset produknya, memetakan target pembaca, dan menyesuaikan dengan gaya bahasa di dalam blog kami. Raditya Dika saja menerbitkan buku pertamanya dari blog. Apakah Raditya Dika bukan seorang penulis? Tidak ada kasta dalam membaca maupun dalam menulis.

 

Kamu adalah Seorang Penulis Jika…

Apa saja yang menunjukkan bahwa kamu seorang penulis? Dari pengalaman saya menjadi content writer, copywriter, novelis, hingga menulis buku non-fiksi sejak 2013, berikut beberapa catatan saya tentang siapa saja yang bisa dikategorikan sebagai penulis

Menulis Pengalaman Pribadi atau Orang Lain

Kamu adalah penulis ketika kamu menceritakan aktivitasmu sehari-hari atau sekadar curhat. Dalam dunia literasi, ada istilah diaris untuk penulis yang rajin mencatat pengalaman hidupnya di buku harian. 

anne frank

 

Anne Frank adalah salah satu diaris terkenal yang membuat dunia tahu bagaimana pengalaman hidupnya selama pendudukan Nazi di Jerman. Kita jadi tahu bagaimana takutnya orang-orang yang terpaksa hidup bersembunyi karena takut dirinya dan keluarganya dibunuh.

Dalam dunia modern, kita mengenal blog. Pada awal kemunculannya, blog dibuat sebagai online diary sehingga orang-orang bisa menulis apa saja yang mereka inginkan. Raditya Dika adalah salah satu bloger yang terkenal dengan gaya komedi dalam blognya hingga kini menjadi penulis buku dan skenario.

Penulis Digital

Selain di blog, penulis digital itu bisa kita temui di medsos atau email. Jadi, kamu dapat membaca opini, studi kasus, hingga wawasan baru di carousel Instagram, takarir Facebook, hingga newsletter email. Semua orang yang menulis konten tersebut dipanggil sebagai content writer atau copywriter.

Nah, istilah Inggrisnya saja da kata-kata ‘writer’, apakah ini menjadi negasi dari aktivitas menulis? Walaupun kamu belum menerbitkan buku best seller, jika kamu sudah melakukan hal-hal di atas, maka kamu juga layak disebut sebagai seorang penulis. 

Penulis Hantu

Sebagai content writer, saya juga sering mendapat job menulis tanpa mencantumkan nama diri sebagai penulis. Ini bisa disebut sebagai ghost writer artikel. Menulis buku untuk orang lain juga bisa disebut sebagai penulis buku hantu atau paling kerennya ghost writer saja. 

Apakah menjadi penulis hantu itu tidak baik? Itu tidak masalah karena sudah ada kesepakatan antara penulis dan juga tokoh yang akan mencantumkan namanya sebagai penulis. Biaya penulis hantu itu tidak murah karena penulis hantu perlu menyesuaikan tulisan agar terlihat sangat mewakili nama penulis yang akan dicantumkan. 

Kamu bisa menyebut diri sebagai ghost writer tanpa perlu menyebutkan nama klien karena ada kode etiknya. Sama-sama menulis buku, hanya saja tidak ada namamu di sana.

Dari penjelasan saya di atas apakah kamu mash tidak percaya diri menyebutkan diri sebagai penulis karena belum menerbitkan buku? Justru kamu perlu berbangga hati karena kamu bisa mendapatkan pemasukan dari jenis kepenulisan apa saja.

Reffi Dhinar

2 responses to “Merasa Tidak Pantas Menyebut Diri Penulis Kalau Belum Menerbitkan Buku?”

  1. Rahman Kamal Avatar
    Rahman Kamal

    Setuju banget, seorang penulis bukan hanya menulis buku. Menjadi blogger adalah salah satu bentuk menulis. Saya pecaya, kita semua memulai dari titik yang sama dan tidak langsung memulainya dari titik finish. Penulis-penulis besar pastinya memulai dari tulisan-tulisan kecil. Dari sayembara-sayembara di tingkat fakultas, hingga kemudian diakui. Memulai dari sayembara-sayembara lokal, melewati banyak ujian dan kritik sehingga menjadi lebih baik terus menerus.

    Semangat, teman-teman penulis, blogger dan kalian semua yang menggantungkan hidupnya kepada tulisan.

    1. Reffi Dhinar Avatar
      Reffi Dhinar

      Iya benar. Menulis itu sebenarnya tidak lagi hanya fokus pada satu bidang. Buzzer itu juga penulis, hahaha. Asah saja kreativitas agar bisa menjadi penulis mulitalenta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *