←back to Blog

5 Kesalahan Content Writer di Awal Karier

5-kesalahan-content-writer

 

Kok bisa saya melakukan kesalahan content writer ketika baru mulai? Kesalahan yang akan saya jabarkan di dalam artikel ini tidak 100% menandakan kita tidak berbakat, lho. Siapapun yang masih pemula, pasti tidak langsung tahu metodenya yang benar. 

Supaya kamu terhindar dari kesalahan yang pernah saya lakukan, maka kamu perlu mengetahui apa saja yang perlu dipahami. 

 

Jenis Kesalahan Content Writer yang Perlu Dihindari

Berikut ini hal-hal yang perlu kamu hindari sejak masih menjadi content writer pemula. Buat yang sudah terjun di dunia content writing lebih dari satu tahun, apakah kamu juga pernah melakukannya?

Kurang Riset

Ketika sedang mengerjakan job menulis artikel atau konten dari klien, saya menemukan topik-topik yang paling saya suka dan sering saya baca. Biasanya, konten ini terkait pengembangan diri. 

Karena merasa bisa, saya pun menulis artikel dengan dua sumber artikel terbatas. Klien pun meminta saya untuk mencari sumber data dari jurnal penelitian agar tulisan yang saya buat tidak seperti opini. 

Apapun jenis topiknya, apalagi jika kamu bukan ahli di bidang tersebut, maka bacalah 3 sampai 4 sumber. Seberapa seringnya atau sukanya kamu pada topik tersebut, maka kamu harus tetap mencari tahu agar kamu tidak menulis berdasarkan pendapat yang subjektif dan hanya berdasarkan ingatan.

 

Mengabaikan Optimasi SEO

Saat membuat konten yang informatif dan terstruktur dengan baik, dulu saya mudah sekali untuk lupa optimasi SEO On Page untuk mesin pencari. Menulis dengan optimasi SEO On Page mencakup berbagai aspek, seperti penempatan kata kunci, tautan internal dan eksternal, gambar, judul, menambahkan deskripsi meta, dan lainnya.

Kadang-kadang, klien kita mungkin sudah memberikan panduan SEO tertentu untuk tulisan tersebut. Saya menulis artikel di blog pertama wordholic.com hanya untuk menuangkan ide saja. Akibatnya, banyak tulisan lama saya yang belum terindeks.

Setiap content writer perlu belajar memahami SEO minimal agar tahu cara agar artikelnya terindeks mesin pencari seperti Google Search. Saat artikel blogmu masuk halaman pertama, kesempatan untuk dilirik agensi yang mencari penulis akan terbuka lebih luas.

 

Tidak Punya Target Audiens Jelas

Ingin punya pembaca yang loyal dan nyaman di blogmu? Maka kamu harus menentukan siapa yang ingin kamu pikat dengan gaya bahasa yang kamu tulis.

Blog wordholic.com yang saya buat pada 2014, dulu sering menggunakan kata ganti berbeda-beda seperti ‘Anda’ dan ‘kamu’. Efeknya, saya jadi bingung apakah mau menulis artikel dengan bahasa santai atau lebih formal.

Supaya kamu bisa menggaet pembaca loyal lebih cepat, segera tentukan kamu ingin memikat pembaca dari rentang usia berapa, gender, hingga jenis informasi yang ingin kamu bagikan.

Blog saya yang pertama tidak punya niche khusus, tetapi saya punya bayangan jika pembacanya adalah perempuan usia 20-40 tahunan. Setelah melihat dari dari Analytics, ternyata memang pembaca saya lebih banyak perempuan.

 

Menulis dengan Topik Terlalu Lebar

Saat bahan untuk menulis artikel begitu banyak, dulu saya ingin menuliskan semuanya menjadi satu bagian. Inginnya, sih, supaya satu artikel bisa menyentuh angka di atas 1000 kata.

Namun, setelah saya baca lagi beberapa tahun kemudian, ternyata isinya melebar ke mana-mana. Tulislah satu artikel dengan satu topik khusus dan lakukan riset jika ingin membuat konten komprehensif.

Contohnya, kamu ingin menulis artikel tentang perawatan bunga hias, maka akan lebih baik kalau kamu menulis artikel bunga hias berbeda-beda jenis. Kamu bisa menulis ‘cara merawat bunga mawar merah’ dan ‘budidaya bunga anggrek’. Judulnya jadi lebih banyak dan setiap konten bisa kamu riset dengan lebih spesifik.

(Baca Juga: 5 Tips Menulis Judul Artikel Menarik)

Malas Baca Ulang

Setiap kali selesai menulis draf artikel, bacalah 2 sampai 3 kali. Sesudah kamu mempublikasikan artikel, kamu juga perlu membaca lagi agar menemukan bagian yang perlu diperbaiki.

Karena saya malas membaca ulang, ada konten yang ternyata memiliki beberapa saltik sampai diprotes klien. Hindari membaca ulang ketika kamu sedang kecapekan atau mengantuk. Ini malah berisiko menambah kesalahan.

 

Inilah 5 kesalahan content writer yang harus kamu hindari. Memang sebaiknya kamu menambah kuantitas artikel, tetapi jangan lupa untuk meningkatkan kualitas sejak awal karier menulismu.

Reffi Dhinar

2 responses to “5 Kesalahan Content Writer di Awal Karier”

  1. Rahman Kamal Avatar
    Rahman Kamal

    What a quote. Terima kasih banyak untuk sharing dan masukan tentang dunia tulis menulis, Kak. Informasinya asik banget ????

    1. Reffi Dhinar Avatar
      Reffi Dhinar

      Semoga suka dan rajin mampir ke blog sederhana ini, ya, Kak. Terima kasih sudah mampir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *